Kehilangan Makna Kurang Pemahaman
Persembahan adalah salah satu bentuk bhakti paling suci dalam tradisi Hindu Bali. Canang, banten, dan sesajen adalah media kita berkomunikasi dengan Ida Sang Hyang Widhi, leluhur, dan alam. Di dalamnya ada makna: simbol kesucian, keikhlasan, dan harmoni.
Tapi akhir-akhir ini ada satu pemandangan yang bikin kita berhenti sejenak. Masih banyak warga yang maturan canang berisi permen.
Di luarnya terlihat indah, canang warna-warni ditata rapi. Tapi setelah beberapa hari, yang tertinggal bukan hanya sisa sesajen. Yang tertinggal adalah kulit permen dari plastik dan miris berserakan di sembarang tempat di tepi jalan, di sungai, sisa-sisa haturan dari pembungkus plastik.
1. Kehilangan Makna
Dulu canang diisi dengan buah-buahan, jajan tradisional, dan bunga. Semua bisa kembali ke tanah. Tidak ada yang mencemari.
Sekarang permen jadi pilihan karena praktis dan warnanya menarik. Tapi kita lupa bertanya: "Setelah dihaturkan, lalu bagaimana?"
Makna "ngaturang yang terbaik dan kembali ke alam" jadi hilang, karena yang kita tinggalkan justru sisa plastik sangat berbahaya, akan terurai menjadi mikroplastik mengganggu ekosistem.
2. Kurang Pemahaman
Banyak yang tidak sadar bahwa kulit plastik permen itu tidak ikut "melebur" seperti bunga dan daun. Dia tetap di sana. Ditiup angin, hanyut ke selokan, dimakan hewan, lalu kembali ke tubuh kita lewat rantai makanan.
Kita maturan untuk memohon keharmonisan dengan alam, tapi tanpa sadar kita merusak alam itu sendiri. Bukankah ini bertentangan?
3. Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menjaga tradisi tidak berarti berhenti berinovasi. Menjaga lingkungan juga tidak berarti meninggalkan persembahan. Kuncinya: pemahaman
Beberapa langkah sederhana:
1. Kembali ke bahan alami, ganti permen plastik dengan jajan tradisional: jaja laklak, pisang, kacang, semua bisa terurai.
2. Edukasi sejak dini, Pecaling, banjar, dan sekolah bisa mengajak anak-anak membuat canang tanpa plastik.
4. Tegur dengan cara baik, saling mengingatkan, bukan soal benar-salah, tapi soal menjaga bersama.
Perenungan
Bali indah karena tradisinya hidup berdampingan dengan alam. Jangan sampai karena kurang pemahaman, kita justru kehilangan dua-duanya: kehilangan makna persembahan, dan kehilangan kelestarian lingkungan.
Mari kita maturan dengan hati bersih, dan meninggalkan jejak yang juga bersih.
Karena persembahan terbaik bukan hanya yang indah saat dihaturkan, tapi juga yang tidak mencemari setelahnya.

