BANKONA
Ing

Seminar Palemahan (Green Hita) Desa

Seminar Palemahan Desa

Seminar dilaksanakan di ruang pertemuan di restaurant kawasan Pantai Penimbangan, pada tanggal 8 Juli 2026. Seminar terselenggara atas kerjasama Yayasan THG Taruna Hita Global dengan Yayasan Bantuan Anak Indonesia

Seminar dibuka oleh wakil Bupati Buleleng, melalui sambutan yang dibacakan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng Luh Putu Adi Ariwati, S. E., M. Pd. Para undangan yang hadir dari: Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, diwakili Bidang Kesehatan Masyarakat. Kepala Desa Panji Anom dan Kepala Desa Pemaron, diwakili staf Desa. Kepala Sekolah se Desa Panji Anom dan se Desa Pemaron. Kepala Sekolah Pilot Projek Green Hita: SDN 1 Tukadmungga dan SMPN 4 Tejakula. Peserta yang turut hadir dari sispala SMAN 3 Singaraja dan SMKTI Bali Global Singaraja. Team Yayasan CIMB, Yayasan Anak serta Team Yayasan THG

Dalam sambutan Wakil Bupati Buleleng menyatakan "Isu Lingkungan" saat ini bukan lagi menjadi persoalan masa depan, melainkan tantangan nyata yang kita hadapi hari ini. Permasalahan sampah plastik, pencemaran sungai, hingga menurunnya kualitas lingkungan memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun perubahan perilaku masyarakat sejak usia dini.
Wabup Buleleng memandang bahwa Green Hita Village Project merupakan langkah strategis yang mengedepankan edukasi dan kolaborasi. Integrasi pendidikan lingkungan di sekolah, pembentukan budaya hidup bersih, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta gerakan menjaga sungai merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi Buleleng yang peduli terhadap lingkungan.
Program ini juga selaras dengan filosofi Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Nilai-nilai lokal seperti inilah yang harus terus kita hidupkan sebagai kekuatan pembangunan daerah.Oleh karena itu, Green Hita Village Project memiliki relevansi yang sangat kuat dengan visi pembangunan Kabupaten Buleleng, karena mendorong terbangunnya masyarakat yang sehat, cerdas, peduli lingkungan, serta mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

Ketua Yayasan THG I Made Budiyasa memberikan pengantar berupa pemaparan proyek 2026, yakni program utama berupa penanaman pohon (Planting), program anak sungai (Green River), program pengelolaan sisa plastik (Bank Kona), serta kampanye lingkungan.

Masalah pengelolaan sampah menjadi tantangan yang harus dicarikan solusi bersama, karena produksi sampah dilakukan oleh semua orang bersifat masal. Timbulan sampah yang jumlahnya terus bertambah seiring jumlah penduduk yang terus berkembang. Timbulan sisa plastik yang menjadi momok dimana-mana yang memberikan kesan kumuh, menimbulkan bau dan mengganggu keindahan serta kenyamanan lingkungan.

Pemaparan dampak yang ditimbulkan dari pembuangan sampah sembarangan berupa banjir yang sangat sering dijumpai, namun ada bahaya yang lebih besar yang tidak kelihatan yakni plastik yang terurai sedikit demi sedikit menjadi mikroplastik. Mikroplastik merupakan pembunuh senyap yang menghantui kesehatan masyarakat. Mikroplastik didalam ekosistem akan masuk ke rantai makanan. Mikroplastik di laut yang mirip fitoplankton atau zooplankton yang dimakan oleh ikan kecil dan masuk ke rantai makanan, ikan besar dimakan manusia. Beberapa jurnal menemukan mikroplastik di semua feses penduduk Indonesia dari semua sampel yang diteliti. Jurnal penelitian melaporkan kebanyakan penderita stroke didalam pembuluh darah ditemukan mikroplastik, sampai dicairan ketuban berisi mikroplastik.

Pada sesi diskusi kendala-kendala dalam penanggulangan dan pengelolaan sampah disampaikan dari pihak Desa dan Sekolah. Kendala volume sampah sudah kelasik disampaikan, kesadaran memilah sampah masih menjadi tantangan berat karena sebagian besar masyarakat belum berlangganan angkut sampah dan yang berlanggananpun masih banyak belum memilah sampahnya. Situasi tiap sekolah juga hampir sama kondisinya belum bisa mengelola sampahnya secara maksimal. Jalan pintas membakar sampah sudah lama berlangsung di masyarakat dan di beberapa sekolah.

Dalam seminar juga dipaparkan bahwa pada bulan Desember 2025, bersama Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Ida Bagus Surya Barata, telah diluncurkan Gerakan Biosaver dan Kantin Sekolah tanpa makanan kemasan plastik di SMPN 4 Sukasada. Program ini merupakan solusi mengurangi timbulan plastik dan pertimbangan kesehatan untuk mengurangi mengkonsumsi makanan kemasan plastik dan pemanis buatan.

Hasil survey menguatkan seminar berupa analisis survey, pengisian survey berlangsung Pebruari-April 2025, dari hasil analisis kuesioner dari 120 responden guru, Kecamatan Tejakula, Kecamatan Buleleng dan Kecamatan Gerokgak, sebagai berikut: 1. Mengetahui bahaya plastik sekali pakai/pipet/botol/styrofoam jika terbuang ke lingkungan 90,16% Baik 2. Langganan angkut sampah 57,37% 3. Memisah sampah organik dan anorganik 59,01% Kurang 4. Ketertarikan kegiatan peduli lingkungan 65,57% Kurang 5. Tertarik bergabung dengan komunitas pecinta lingkungan 73,77% Baik 6. Mengenal/mendengar tag Stop Luutung atau Stop Luubak 31,96% Kurang sekali 7. Apakah pernah membersihkan atau mencuci bungkus saos/sambal kemasan sejenis ini? (plastik isi gula) 16,39% Sangat kurang 8. Pernah membuat kompos 51,63% Kurang

Dalam seminar dipaparkan juga hasil Forum Diskusi Konunitas Lingkungan Kabupaten Buleleng tanggal 22-23 Maret 2026 di ruang pertemuan Cozy Resto, memberikan masukan untuk Desa Adat dan Desa Dinas Pemberdayaan Peran Desa Adat dalam Pengelolaan Lingkungan Mendorong setiap Desa Adat untuk membuat awig-awig (peraturan desa adat) terkait pengelolaan sampah dan perlindungan kawasan hutan/tukad (sungai), terutama dalam mengatur sampah upakara/yadnya yang saat ini masih tercampur dan menjadi beban lingkungan. Membentuk Subak atau kelompok lingkungan yang secara kolektif mengelola ruang terbuka hijau dan sistem drainase tradisional di wilayahnya. Masyarakat Umum Perubahan Perilaku dari Hulu Memulai kebiasaan memilah sampah dari rumah, minimal memisahkan sampah organik (sisa makanan, dedaunan) dan anorganik (plastik, kaca). Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengelola sampah organik secara mandiri melalui komposter rumah tangga atau memanfaatkan lahan pekarangan untuk lubang resapan biopori. Partisipasi Aktif dalam Aksi Kolektif Terlibat aktif dalam kegiatan gotong royong membersihkan sungai, pantai, dan saluran drainase di lingkungan masing-masing, terutama menjelang musim hujan. Menjadi agen perubahan dengan melaporkan secara partisipatif jika menemukan indikasi pencemaran, pembuangan sampah liar, atau pelanggaran tata ruang di wilayahnya.

Sesi Kesimpulan, beberapa kepala sekolah akan segera menggunakan metode mengurangi timbulan sisa plastik dari kantin sekolah dan menerapkan Kurikulum Green Hita di sekolahnya. Metode #gersaplast merupakan Gerakan Sapu Plastik, Gerakan Sate Plastik dan Generation Save Plastics inti gerakan dalam menanggulangi masalah sisa plastik.

Pengujung sesi yang dipandu MC dan Moderator Eka Supariyanti dan Ni Luh Mang Puspita Widyaningsih, peserta seminar diajak berfoto bersama dan menandatangi IKRAR MKD (Menjaga Kebersihan Dimanapun)

Hitaglo Seed

Tri Hita Karana