BANKONA
Ing

Pecaling Buleleng Caling Bali

PECALING BULELENG

CALING BALI


Dalam rangka menyambut HUT RI ke 81, Yayasan THG akan meluncurkan Pecaling atau Pecalang Lingkungan. Satuan Pecaling ini bersifat sukarela memberikan kontribusi dalam memantau dan menjaga lingkungan.

Baju kaos Pecaling dapat dipesan melalui kontak, pembuatan atribut saput, udeng, rompi Pecaling dibuka kesempatan bagi yang mau mensupport dan peduli dengan lingkungan Bali

Sebagian besar masih terjebak, kelas menengah ke bawah sibuk berkutat dengan ekonomi, kelas atas berada di zona nyaman sibuk mengembangkan bisnisnya. Keadaan tidak membaik dengan sendirinya dari manusia yang mengabaikan lingkungan.






JEBAKAN YANG TAK KASAT MATA


Manusia modern hidup dalam dua jebakan besar. Jebakan yang berbeda bentuk, tapi berakar dari penyakit yang sama: mengukur segalanya dengan keuntungan.

Kelas Menengah Bawah: Terjebak Bertahan Hidup


Bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah, hidup adalah soal bertahan.  
Bangun pagi, kerja, pulang, bayar cicilan, ulangi. 

Tidak ada ruang untuk berpikir tentang emisi karbon. Tidak ada waktu untuk memilah sampah. Yang ada hanya: "Bulan ini cukup atau tidak?" 

Mereka tidak jahat pada lingkungan. Mereka hanya tidak punya pilihan. Ketika perut lapar, hutan bisa ditebang. Ketika butuh uang cepat, laut bisa dikeruk. 

Ini bukan salah mereka. Ini adalah jebakan sistem.

Kelas Atas: Terjebak di Zona Nyaman


Di sisi lain, ada kelas atas. Mereka sudah "aman" secara ekonomi. Rumah ada, tabungan ada, bisnis jalan. 

Lalu apa yang terjadi? Mereka sibuk mengembangkan bisnisnya. Mengejar pertumbuhan 10%, 20%, 30%. Mengejar ekspansi, akuisisi, dan keuntungan kuartal berikutnya.

Zona nyaman membuat mereka buta. Selama laporan keuangan hijau, selama bisnis tumbuh, maka kerusakan di luar pagar pabrik dianggap "biaya eksternal". Bukan urusan mereka.

Mereka juga terjebak. Terjebak dalam ilusi bahwa pertumbuhan tanpa batas itu mungkin di planet yang terbatas.

Akar yang Sama: Mengukur Nilai Manusia dari Uang

Lihat. Dua kelas yang berbeda, dua kesibukan yang berbeda.  
Yang satu sibuk cari makan. Yang satu sibuk kembangkan bisnis. 

Tapi akarnya sama: Otak Bisnis


Otak yang percaya bahwa nilai manusia = produktivitas.  
Otak yang percaya bahwa kemajuan = pertumbuhan ekonomi.  
Otak yang percaya bahwa alam = sumber daya untuk dieksploitasi.

Selama kita masih memakai kacamata ini, maka guru akan dihargai lebih rendah dari sales. Petani akan kalah prestise dari trader. Dan Pecalang lingkungan akan dianggap "kurang kerjaan".

Padahal kita semua hidup di kapal yang sama dan kapal ini bocor, kapal ini adalah planet kita.


KETIKA SEMUA SIBUK DENGAN DIRI SENDIRI


Ada sebuah paradoks di zaman ini. Kita saling terhubung secara digital, tapi paling tercerai-berai secara tanggung jawab.

Ekonomi Jadi Tuhan Baru


Dulu manusia menyembah alam. Lalu menyembah raja. Sekarang kita menyembah satu hal yakni pertumbuhan ekonomi.

IPR naik = negara hebat.  
Omzet naik = perusahaan hebat.  
Gaji naik = manusia hebat.

Semua diukur dengan angka di rekening. Tidak ada kolom di laporan keuangan untuk hutan yang gundul. Tidak ada laporan untuk sungai yang mati, subak yang hilang

Akibatnya? Kita melahirkan generasi yang jago menghitung profit, tapi buta menghitung kerusakan.

Bisnis yang Melupakan Dampak


Kelas atas sibuk mengembangkan bisnisnya. Wajar. Itu tugas mereka.

Masalahnya bukan pada bisnisnya. Masalahnya pada asumsi dasarnya:  
_"Yang penting usaha jalan, masalah lingkungan nanti ada yang ngurus."_

Pabrik jalan 24 jam, limbah dibuang ke sungai.  
Hotel dibangun di tepi pantai, terumbu karang dirusak.  
Startup unicorn dapat pendanaan miliaran, tapi karyawan dan kurirnya lembur tanpa jaminan.

Ini bukan bisnis. Ini pengalihan biaya. Keuntungan diprivatisasi. Kerusakan dinormalisasikan.

Lingkungan: Korban yang Selalu Dibayar Paling Akhir


Sementara itu, di bawah, kelas menengah ke bawah sibuk berkutat dengan ekonomi.  
Tidak ada energi untuk demo. Tidak ada waktu untuk edukasi. Tidak ada dana untuk teknologi hijau.

Dan di tengah-tengah, lingkungan diam.  
Sungai menampung plastik. Udara menampung asap. Tanah menampung racun.

Lingkungan tidak bisa mogok kerja. Tidak bisa mengajukan gugatan. Satu-satunya cara ia berbicara adalah lewat banjir, tanah longsor, gagal panen, dan penyakit.

Dan inilah kalimat kuncinya:  

"Keadaan tidak akan membaik dengan sendirinya dari manusia yang mengabaikan lingkungan"


Tidak ada hukum alam yang bilang "jika manusia diam, bumi akan sembuh sendiri".  
Tidak ada malaikat yang akan datang memilah sampah kita.  
Tidak ada teknologi ajaib yang akan menyelamatkan karbon jika kita terus mengabaikan lingkungan.

Kerusakan hari ini adalah akumulasi dari keputusan "nanti saja" yang kita buat kemarin.  
Dan jika kita terus sibuk dengan diri sendiri, maka anak cucu kita yang akan membayar tagihannya.


Hitaglo Seed

Seminar Palemahan (Green Hita) Desa

Tri Hita Karana